Banner 468 X 60

Diberdayakan oleh Blogger.

Minggu, 20 Mei 2012

Budaya Membaca VS Budaya Menonton

dalam bab ini kita akan membahas budaya membaca vs budaya menonton, mengapa saya membahas ini?? karena ada beberapa hal yang menjadi sebuah ancaman bagi bangsa maupun dunia pendidikan terutama dengan menurunnya budaya membaca, sehingga menurun pula tingkat kualitas pendidikan di indonesia pula. menurut sumber : http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=302555 maka budaya membaca vs budaya menonton dapat di paparkan sebagai berikut: 

Tayangan-tayangan di televisi memang sangat menarik, sehingga membuat pemirsa terlena oleh keadaan. Tayangan hiburan lebih banyak digemari, baik di kalangan orangtua, dewasa, bahkan remaja (mahasiswa). Acara sinetron yang tayang setiap hari dengan cerita yang tidak masuk akal adalah menu yang selalu dinanti-nanti.

Mudahnya akses televisi (TV) serta luasnya jangkauan, memudahkan masyarakat untuk menikmatinya. Di satu sisi, kehadiran TV yang menyajikan hiburan dianggap solusi pelepas lelah dari mumetnya pikiran di tengah persoalan kehidupan yang semakin sulit. Di sisi lain, hampir 70 persen lebih tayangan televisi sangat tidak mendidik dan banyak diisi tayangan drama dengan pesan berbau kekerasan, egoisme, mistik, hedonisme, dan pergaulan bebas. Selain itu, hampir setiap stasiun TV didominasi oleh infotainment.

Padahal, semakin sering anak-anak menonton TV berdampak pada perkembangan mental mereka hingga menjadi lemah dan tidak terdidik secara baik. Di lain pihak, kebanyakan menonton TV dapat menyebabkan kemalasan di kalangan pelajar.

Porsi untuk belajar sangat kecil ketimbang menonton televisi. Kebanyakan waktu mereka tersita hanya karena tontonan yang tidak mendidik dan tidak bermoral. Remaja Indonesia pun sekarang lebih pas dibilang generasi visual. Padahal generasi visual adalah musuh utama budaya literal.

Budaya membaca tampaknya memang belum terbangun dengan baik di Indonesia. Para siswa masih menganggap kegiatan membaca dan menulis sebagai hal yang menguras otak dan membuat pusing. Di samping itu, kesadaran membaca dan menulis belum dijadikan kebutuhan pokok seperti halnya makan dan minum sehingga hal tersebut sangat sulit untuk dibiasakan.

Terkikisnya budaya baca di kalangan pelajar dan mahasiswa akan memperburuk citra pendidikan Indonesia. Bagaimana tidak, pendidikan yang kita anggap sebagai tolak ukur kemajuan bangsa ternyata sangat memprihatinkan.

Pelajar sebagai aktor dunia pendidikan masih enggan membaca dan menulis. Bisa dibanyangkan, bagaimana kualitas peserta didik negeri ini di masa mendatang. Padahal, dengan membaca paling tidak akan membuka wawasan dan pengetahuan minimal untuk pribadinya.

Jika diingat kebangkitan nasional seabad lalu, akar gerakan itu bermula dari budaya literal, yaitu belajar, membaca, menulis dan berpikir sehingga tercipta pola pikir kebangsaan. Lihat saja, hampir semua tokoh bangsa yang mempelopori kebangkitan dan kemerdekaan adalah orang-orang yang selalu bergelut dengan budaya literal.

Rupanya, budaya membaca yang dulu menjadi ciri khas peradaban bangsa begitu jauh tersisihkan. Kemajuan teknologi dan derasnya arus globalisasi bukan berarti selalu membawa efek negatif. Tetapi, hal tersebut harus disikapi dengan arif diikuti keseimbangan berpikir. Budaya nonton yang kian menjalar bukan sebagai sebab dari makin malasnya generasi bangsa tetapi bagaimana kesadaran akan pentingnya pendidikan kembali ditanamkan. 

0 komentar:

Posting Komentar