Kaos merupakan pakaian yang simple untuk digunakan saat santai. Selain itu juga, kaos nyaman dipakai terutama yang terbuat dari bahan katun yang menyerap keringat. Tapi banyak diantara kita yang tidak tahu cara merawat kaos agar awet (tahan lama) dan tetap nyaman dipakai. Nah berikut tips merawat koleksi kaos kesayangan kita terutama saat anda mencucinya :
1. Jangan merendam kaos terlalu lama
Sebaiknya merendam kaos tidak lebih dari 1 jam untuk kaos yang udah lama, sedangkan kaos baru tidak boleh lebih dari 30 menit. Jika lebih, deterjen bisa menyebabkan sablon pada kaos akan cepat rusak.
2. Pisahkan kaos saat dicuci
Pisahkan antara kaos yang berwarna kuat (seperti hitam, merah, biru, hijau, dll) dengan pakaian yang berwarna putih. Karena akan menyebabakan luntur. Pisahkan juga kaos yang sangat kotor dengan yang tidak begitu kotor, karena jika dicampur nanti hanya akan transfer kotoran saja (biasanya kaos pakaian pria lebih kotor dari kaos pakaian wanita).
3. Jangan menyikat kaos Saat mencuci kaos jangan menyikat terlalu keras, karena bisa merusak sablon pada kaos tersebut dan merusak serat pakaian kita sehingga menjadi berbulu. Juga hindari kucekan dan perasan yang terlalu kuat karena dapat merusak pori-pori baju.
4. Jemur kaos terbalik
Sinar matahari dapat mengakibatkan warna kaos dan sablon kaos memudar. Oleh karena itu sebelum menjemur kaos yang telah di cuci sebaiknya di balik terlebih dahulu agar sablon tidak langsung menghadap ke matahari.
5. Kaos Jangan digantung
Hindari menggantung dengan hanger karena bagian leher kaos akan cepat melar akibat tidak kuat menahan beban air pada kaos yang basah. Hindari juga menggantung kaos pada tali/kawat jemuran karena dapat merusak tekstur kain yang halus.
6. Hindari pemutih untuk Kaos
Pemutih pakaian mengandung zat kimia yang sangat kuat, yang bisa menyebabkan sablon menjadi luntur dan terkelupas. Pemutih pakaian juga berpotensi membuat kaos jadi cepat tipis dan kasar. Walaupun kaos mahal atau dibeli di online store, itu bukan jaminan karena zat kimia tersebut bersifat merusak.
7. Hindari mencuci kaos dengan mesin cuci
Sebaiknya cuci kaos menggunakan tangan. Mesin cuci dapat membuat kaos menjadi melar, sablon cepat rusak, dan pori-pori kasar. Hal ini dikarenakan saat berputar kaos akan menerima beban tarik-ulur dan gesekan dengan kain lain disekitarnya.
8. Setrika kaos
Agar awet selalu setrika kaos setelah dicuci dan dijemur. Juga pastikan kaos disetrika pada keadaan kering. Untuk kaos sablon berwarna selain putih, hindari menyetrika pada bagian sablon. Atur juga posisi panas setrika pada posisi sedang.
9. Menghilangkan noda di kaos
Jika kaos terkena noda, segera cuci pada bagain yang bernoda. Gunakan shampoo/detergen, oleskan pada bagian noda, gosok dengan halus dan bilas dengan air bersih hingg noda hilang.
10. Kaos keren bukan untuk tidur
Agar kaos keren kesayangan Anda awet, jangan pakai dipakai untuk tidur, karena keringat saat kita tidur bisa membuat kaos kita cepat kotor dibagian leher. Selain itu, pressure pada kaos akan membuatnya cepat melar.
11. Pakailah kaos sesuai kebutuhan
Sebaiknya Koleksi Baju kaos kesayangan anda jangan terlalu sering digunakan. Oleh karena itu, miliki beberapa koleksi kaos agar frekuensi anda menggunakannya agak lama dan bergantian. Sehingga koleksi kaos anda selain banyak juga awet
Sebuah study di Boston Medical centre yang dikutip huffingtonpot.co.ik, menemukan hubungan antara kecepatan berjalan dan resiko dimensia. Dimensia merupakan istilah yang digunakan untuk menjelaskan penurunan fungsional yang disebakan kelainan yang terjadi pada otak. Mereka yang memiliki gaya berjalan lambat beresiko mengalami penurunan daya ingat lebih buruk di masa depan dibanding dengan mereka yang terbiasa berjalan dengan ritme yang lebih cepat.
Langkah kaki sebenarnya bisa member petunjuk visual yang berhubungan dengan kondisi kesehatan kognitif. Pikun merupakan gejala umum yang mungkin terjadi dan menunjukkan adanya dimensia. Orang-orang yang menderita dimensia sering tidak dapat berfikir denagn baik dan berakibat tidak dapat beraktivitas dengan baik. Oleh karena itumereka lambat laun kehilangan kemampuan untuk menyelesaikan permasalahan dan perlahan menjadi emosional, sering hal tersebut menjadi tidak terkendali.
Kesimpulan tersebut muncul melalui serangkaian tes terhadap 2.400 pria dan wanita berusia sekitar 62 tahun. Dengan periode analisis selama 11 tahun, tes mencakup kecepatan berjalan, kekuatan pegangan tangan, dan kualitas fungsi kognitif.
Berjalan memerlukan energy, pengendalian gerak, dan dukungan serta menempatkan tuntutan pada banyak system organ, termasuk jantung, paru-paru, sirkulasi darah, urat saraf dan system otot dan tulang. Sedangkan gaya berjalan yang lambat mungkin mencerminkan system yang rusak dan tingginya energy yang dikeluarkan saat berjalan.
Dan ini bukan satu-satunya penelitian yang mengaitkan kecepatan berjalan dengan kondisi kesehatan. Pada 2009, sebuah penelitian mengungkap hubungan kuat antara kecepatan berjalan dan resiko penyakit jantung. Penelitian lin yang dipublikasikan Journal of the American medical Association, juga memperlihatkan hubungan antara kecepatan berjalan dan tingkat harapan hidup.
Untuk menjaga kesehatan, berjalan selama 30 menit setiap hari dengan kecepatan sedang hingga jalan cepat dapat menghilangkan rasa nyeri dan sakit, serta meningkatkan mood atau suasana hati kita. Untuk menyusutkan bobot tubuh, yang kita perlukan olahraga yang mampu melakukan pembakarn kalori, oleh sebab itu kunci adalah intensitas. [infosehat.com][]
Perpustakaan sebagai lembaga penyedia ilmu pengetahuan dan informasi memiliki peran yang sangat penting bagi semua orang. Demikian halnya dalam dunia pendidikan seperti sekolah. Perpustakaan sekolah ialah perpustakaan yang dimiliki sekolah dan dikelola sepenuhnya oleh sekolah yang bersangkutan.
Perpustakaan memiliki peran yang sangat penting untuk mendukung agar siswa gemar membaca, meningkatkan literasi informasi, menambah wawasan juga untuk memenuhi kebutuhan siswa untuk lebih memperdalam ilmu pengetahuan. Membaca sangat penting bagi siswa, karena dengan membaca kita bisa mendapatkan banyak informasi sehingga dapat membuka wawasan kita lebih luas.
Tidak semua siswa berminat pergi ke perpustakaan, misalnya pada waktu jam istirahat masih banyak siswa yang lebih memilih bermain atau jajan daripada membaca buku di perpustakaan, hal itu disebabkan karena masih kurangnya minat membaca para siswa. Hal ini merupakan tantangan bagi para guru dan orang tua siswa untuk lebih memberikan dorongan, motivasi kepada para siswa agar mereka menyadari betapa pentingnya gemar membaca. Selain daripada itu hal yang tidak kalah pentingnya pengelola perpustakaan harus dapat meningkatkan fasilitas yang ada di perpustakaan sekolah, seperti: Menciptakan suasana perpustakaan yang nyaman dengan desain, interior yang nyaman. Melengkapi koleksi buku, selain buku pelajaran hendaknya memiliki koleksi untuk keperluan hiburan seperti novel, majalah, komik, koran, dan poster. Melengkapi fasilitas (meja dan kursi) untuk membaca yang memadai. Bila mampu hendaknya perpustakaan sekolah dilengkapi dengan fasilitas digital misalnya komputer yang dilengkapi dengan mesin pencarian buku, televisi, dan VCD player untuk menonton video yang berhubungan dengan pelajaran.
Sumber Daya Manusia (SDM) yang mengelola perpustakaan juga turut andil dalam menentukan minat baca siswa, dengan demikian pengelola/petugas perpustakaaan sekolah diharapkan bisa memberi layanan yang baik, ramah, sehingga siswa akan lebih berminat untuk dating ke perpustakaan.
Peran guru juga sangat penting dalam mebangun minat baca para siswa, misalnya dengan memberi tugas yang memerlukan referensi yang ada di perpustakaaan, mengajak siswa agar belajar di perpustakaan. Sehingga siswa akan terbiasa datang ke perpustakaan.
Tugas pustakawan adalah melayani para siswa dalam pencarian informasi. Ada beberapa jenis layanan, seperti: Layanan sirkulasi, berupa layanan tempat untuk meminjam bahan pustaka yang dapat dibawa pulang dengan menggunakan kartu anggota perpustakaan. Layanan membaca di perpustakaan, fasilitas untuk siswa yang belum memiliki kartu anggota perpustakaan sehingga masih dapat membaca buku di perpustakaan. Pemutaran film, dengan pemutaran film yang bertemakan pelajaran diharapkan siswa dapat memahami informasi lebih jelas. Layanan jasa informasi, layanan ini disediakan untuk orang yang ingin mengetahui informasi lebih jelas.
Fungsi perpustakaan: Edukatif (pendidikan), karena perpustakaan merupakan pusat informasi, sehingga dapat memberikan dukungan terhapad mata pelajaran yang dipelajari oleh siswa. Rekreatif (rekreasi), menyediakan buku yang bersifat menghibur. Informatif (informasi), Riset (penelitian),
Tujuan perpustakaan di sekolah: Menyediakan buku-buku yang dapat menunjang siswa dalam belajar Menjadi sumber informasi yang bermanfaat bagi siswa. Memberikan layanan yang berkaitan dengan informasi khususnya dalam duni pendidikan.
Dengan tujuan dibangunnya perpustakaan sekolah, diharapkan dapat membangun budaya baca, yang tadinya tidak suka membaca menjadi suka membaca.
Salah satu faktor penyebab buruknya kualitas pendidikan di tanah air adalah tidak menjadikan perpustakaan sebagai jantung sekolah. Mengapa perpustakaan harus dijadikan sebagai jantung sekolah? Karena Ssebagaimana fungsi jantung dalam tubuh, perpustakaan sangan menentukan sehat tidaknya sistem pendidikan sekolah. Apabila jantung tidak berfungsi, akan mengakibatkan kelumpuhan dan apabila sekolah tidak memiliki perpustakaan, sama seperti tubuh yang tidak memiliki jantung atau tidak memiliki daya hidup (Suherman, 2009: 14).
Faktor paling penting untuk menjadikan perpustakaan sebagai jantung sekolah adalah program atau kegiatan yang dilakukan oleh perpustakaan. Kalau perpustakaan di ibaratkan sebagai jantung, program adalah nyawanya. Jantung tidak bisa berdenyut bila tidak ada nyawa. Sehingga perpustakaan sekolah sangat penting bagi penujang siswa dalam belajar.
Sumber:Suherman.2009. Perpustakaan Sebagai Jantung Sekolah. Bandung: MQS Publishing
Tentang manfaat membaca bagi setiap orang, tentu tidak perlu lagi diperdebatkan lagi. Selain informasi dan pengetahuan, membaca adalah kegiatan positif yang bisa mempengaruhi hati dan jiwa, memberi hiburan, bahkan mendatangkan kebahagiaan. Membac adalah aktifitas yang sudah diakui manfaatnya. Ia bukanlah sebuah aktifitas yang baru muncul di tahun-tahun terakhir ini. Hanya saja, banjir informasi yang berjalan dengan cepat dan melimpah saat ini, menuntut kita mengimbangi dan mengambil secara cerdas. Banyak yang menganggap bahwa membaca adalah kegiatan yang hanya pantas dilakukan oleh mereka yang masih sekolah/kuliah dan pintar. Ia ibarat kegiatan yang merusak mata dan menambah ketebalan kacamata periodic. Istilah kutu buku yang terkenal itu, sering diidentikkan dengan sosok berkaca mata tebal seperti pantat botol, culun dan sangat tidak menarik.
Bukan hanya pelajar
Sesunguhnya tidak ada korelasi antara latar belakang pendidikan dengan kemampuan menbaca. Maka siapapun kita bahkan mesti hanya lulusan sekolah dasar punya peluang yang sama dalam menjadikannya sebagai kebiasaan kita. Yang ada adalah hubungan antara kecerdasan dan potensi membaca. Karena ia adalah aktifitas kompleks yang mengerahkan sejumlah besar tindakan yang terpisah-pisah, khayalan, pengertian, pengamatan dan ingatan. Dan kecerdasan tidak sama dengan tingkat pendidikan. Meski bukan hanya milik para pelajar, menjadikan membaca sebagai sebuah kebiasaan bukanlah hal yang mudah. Bahwa sebuah kebiasaan terdiri dari tiga unsur yang saling berkaitan erat. Pun demikian halnya dengan membaca. Apabila salah satunya tidak ada, maka ia tidak bisa disebut sebagai kebiasaan.
Bukan Kebetulan
Siapapun kita, bisa saja menjadikan membaca sebagai sebuah kebiasaan asal tahu caranya, Yaitu mencoba merealisasikan gabunagn dari tiga unsure kebiasaan ; Pengetahuan, Keinginan dan Keterampilan.
Yang pertama, kita harus memiliki cukup pengetahuan tentang pentingnya membaca, jenis bacaan, klasifikasinya berdasar kepentingan, serta peringkat prioritasnya. Hal ini perlu agar kita terhindar dari kesalahan memilih bahan bacaan, baik karena isinya yang ternyata merusaj atau berkualitas rendah, juga tidak termasuk yang paling mendesak untuk dibaca.
Yang kedua adalah factor keinginan. Ia berupa motivasi yag kuat untuk membaca, sebab kebiasaan membaca bukanlah sebuah kebetulan, namun memang harus diupayakan. Motivasi ini dapat kita peroleh dari pengetahuan akan besarnya manfaat yang akan kita dapatkan dari kebiasaan ini, sekaligus kerugian kita yang akan kita alami jika kita tidak terbiasa membaca. Bisa juga dengan mengamati orang-orang yang sukses karena menjadikan diri mereka sebagai pembelajar, yang senantiasa membaca dan terus membaca untuk memperbaiki kualitas diri. Secab sesungguhnya, bangku sekolah sja tidak akan cukup membekali kita dengan ilmu dan ketrampilan yang memadai sebagai bekal hidup.
Yang ketiga adalah factor keterampilan. Ia meliputi sejumlah kemampuan teknis yang dibutuhkan untuk melakukan suatu kebiasaan. Dalam hubungannya dengan membaca, ada sebuah keterampilan yang harus kita miliki untuk melakukannya dengan baik dan menyenangkan. Tanpa keterampilan yang memadai, seringkali kita mudah lelah, lamban, mudah bosan, dan tidak bergairah. Kita bahkan tidak tahan membaca satu bab buku sekali duduk, apalagi menyelesaikannya sampai akhir, meski buku itu tipis.
Singkirkan Penghalang
Ada sejumlah kebiasaan buruk dalam membaca yang mnyebabkan menjadi berat, lamban dan melelahkan. Diantarnya adalah membaca dengan suara atau vokalisasi. Mirip orang yang berbicara sendiri. Mengucapkan kata demi kata dengan lengkap tentu sangat memperlambat membaca. Bahkan sekedar menggumamkan kata dengan mulut terkatub dan tanpa suara sedikitpun termasuk kategori ini. Selain itu, menggerakkan bibir atau komat kamit juga termasuk di dalamnya. Seringkali kita harus kembali ke belakang dalam membaca sebab gerakan bibir tidak bisa mengimbangi kecepatam mata. Menggerakkan kepala dari kiri ke kanan mengikuti baris demi baris demi baris bacaan, termasuk menghambat membaca. Kebiasaan sejak kecil ini terjadi karena penglihatan kanak-kanak kita masih sulit menguasai seluruh penampang bacaan. Jika bertahan hingga dewasa, tentulah akan menghambat kecepatan membaca, sebab menggerakkan mata saja tentu lebih cepat dan lebih mudah disbanding harus menggerakkan kepala. Ada lagi kebiasaan tidak baik dalam membaca yang masih banyak terjadi, yaitu, menunjuk dengan jari saat membaca. Kebiasaan ini muncul karena saat baru belajar membaca, kita mengucapkan kata demi kata apa yang kit abaca. Kekhawatiran adanya kata yang terlewati menyebabkan kita meminta bantuan jari, pensil, dll sebagai penunjuk. Hal ini akan sangat menghambat kecepatan baca sebab gerakan mata tentu lebih cepat disbanding kecepatan alat penunjuk. Seringkali, mata kita bergerak kembali ke belakang 9regresi) untuk membaca ulang satu atau beberapa kata sebelumnya. Kebiasaan yang sangat menghambat ini terjadi karena kita kurang atau tidak konsentrasi ketika membaca. Kita melamun, sehingga merasa ada kata yang etrlewati. Padahal memahamisebuah bacaan seringkalidengan memahami konteks bacaab, bukan menghafal kata demi kata.
Mata dan Otak
Membaca adalah aktifitas mata dan otak. Mata ibarat kamera yang memotret bahan bacaan, sedang otak adalah prosessor untuk memahaminya. Daei sini, otak adlah unsure utama membaca., karena mata hanya menginformasikan ke otak., apa yang ia lihat , sedang eksekusinya ada di otak. Itulah kenapa orang yang rusak otaknya tidak bisa membaca eski matanya sehat. Sedang orang buta mampu buta mampu membaca huruf-huruf Braille, meski mata mereka bermaslah. Karena kemampuan interpretasi sebuah bacaan tidak tergantung kepada ketajaman mata, namun lebih kepada kejernihan otak, serta kekayaan wawasan dan pengertiannya. Maka yang harus dialkukan sekarang adalah memilih dan memilah bahan bacaan, sebab ada bacaan yang bergizi dan ada pula bacaan yang berupa sampah. Menetapkan prioritas dan target bacaan yang realistis. Kemudian mencoba untuk menikmatinya. Bukankah aktifitas ini bisa dilakukan dalam pilihan waktu dan tempat yang fleksibel?. Semua akan mudah jika kita memang disiplin mengerjakannya. Jadi, karena membaca adalah sebuah pilihan, sebagaimana kita juga bisa memilih untuk tidak membaca, pertimbangkan baik-baik untung rugi diantara dua pilihan itu. Sudahlah kita memilih untuk menjadikan membaca sebagai bagian dari kebiasaan kita?...
Apel Mampu Atasi Ketombe dan Jerawat Kita tentu ingat dengan ungkapan “An apple a day keeps the doctor away“. Ternyata, apel tak hanya bermanfaat bagi kesehatan, tapi juga bagi kecantikan kulit. Coba dua trik ini untuk mendapatkan kulit idaman. Kulit bersinar dan bercahaya
Rahasianya: Gunakan masker dari apel. Buah ini mengandung pelembab, dan asam apel mampu menghaluskan kerut-kerut pada kulit. Karen Behnke, pendiri kosmetik Juice Beauty dari San Rafael, California, menjelaskan hal ini dan memberikan resep masker andalannya untuk dicoba. Bahan:
1 bh apel hijau (kulit tak perlu dikupas), potong kecil-kecil
100 gr anggur hijau
1 sdm air perasan lemon
50 gr lidah buaya, potong-potong Cara membuat:
Campur semua bahan dalam blender. Lumatkan hingga kental. Setelah selesai, aplikasikan ke wajah dan leher secara menyeluruh. Diamkan 15 menit, kemudian bilas dengan air hangat. Perlu diingat: Sebelum aplikasi dilakukan, lakukan tes kecil terlebih dahulu. Pulaskan sedikit masker ke wajah atau leher. Tunggu sejenak dan lihat apakah ada reaksi alergi. Jika tidak, kita boleh melanjutkan bermasker. Mengatasi kulit kepala berketombe
Sari buah atau cuka apel ampuh untuk membersihkan bakteri di kulit kepala pemicu ketombe. Hal ini dikemukakan oleh Cal Orey, penulis buku The Healing Powers of Vinegar. Buktikan: Pijat kulit kepala dengan lima sendok makan cuka apel atau sampai merata ke seluruh kulit kepala. Diamkan selama 1 menit. Kemudian, cuci rambut dengan sampo hingga aroma cuka hilang. Hilangkan jerawat
Selain melembabkan kulit kering, masker apel plus madu dapat membantu mengatasi jerawat. Resepnya: Parut separuh buah apel, campur dengan empat sendok makan madu, aduk rata. Bubuhkan masker di atas jerawat. Diamkan 10-15 menit, lalu bilas dengan air. (infosehat)
PERPUSTAKAAN SEKOLAH:UNTUK PENDIDIKAN DAN PENGAJARAN
Salah satu fungsi perpustakaan adalah fungsi education,termasuk perpustakaan sekolah maka harus bisa menjalankan perannya,baik di perpustakaan sekolah dasar,menengah pertama,dan menengah atas
Perpustakaan sekolah harus dapat memainkan peran, khususnya dalam membantu siswa untuk mencapai tujuan pendidikan di sekolah. Untuk tujuan tersebut, perpustakaan sekolah perlu merealisasikan misi dan kebijakannya dalam memajukan masyarakat sekolah dengan mempersiapkan tenaga pustakawan yang memadai, koleksi yang berkualitas serta serangkaian aktifitas layanan yang mendukung suasana pembelajaran yang menarik.
Dengan memaksimalkan perannnya, diharapkan perpustakaan sekolah bisa mencetak siswa untuk senantiasa terbiasa dengan aktifitas membaca, memahami pelajaran, mengerti maksud dari sebuah informasi dan ilmu pengetahuan, serta menghasilkan karya bermutu. Sehingga pada akhirnya prestasi pun mudah untuk diraih.
Tugas perpustakaan dalam memajukan masyarakat sekolah melalui ilmu pengetahuan dan informasi harus diwujudkan secara efektif dan efisien. Masyarakat sekolah yang menjadi sasaran perpustakaan, mulai dari pihak manajemen sekolah, guru, siswa, pihak orang tua, dan segenap warga sekolah yang lain harus menjadi pintar dengan adanya perpustakaan sekolah. Khususnya siswa, yang menjadi obyek dari pada pembelajaran dan pengajaran, harus dikenalkan betapa pentingnya manfaat dari perpustakaan sekolah. Masyarakat sekolah yang sadar dengan kehadiran perpustakaan akan mewujudkan masyarakat yang gemar membaca. Begitu ironis ketika kita mengamati hasil dari sebuah penelitian yang menunjukkan dari 50 sekolah yang diteliti, ternyata 8 sekolah diantaranya tidak mempunyai perpustakaan. Bagaimana siswa dapat menghasilkan karya dan mengukir prestasi jika di sekolahnya tidak tersedia perpustakaan?
Memang, proses belajar siswa tidak hanya dilakukan di sekolah. Istilah long lifeeducationharus tertanam betul dan diaplikasikan dalam kehidupan siswa sehari-hari. Terutama menanamkan akhlak/nilai-nilai yang baik pada siswa. Perpustakaan dapat mengajarkannya tentang rasa tanggungjawab dalam meminjam dan menjaga koleksi dari kerusakan/hilang, membiasakan aktifitas membaca dalam mengisi jam istirahat, serta kebiasaan baik lain yang tercermin dalam tata tertib maupun peraturan perpustakaan. Pihak sekolah berkewajiban mem-backup peraturan yang dikeluarkan oleh perpustakaan. Diharapkan dengan penanaman akhlak/nilai-nilai yang baik ini, siswa dapat lebih bertanggungjawab dalam kehidupan sosialnya, menjadi taat pada orang tua dan bapak ibu guru, serta menjadi warga masyarakat yang bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya. Bukankah hal tersebut juga merupakan prestasi bagi siswa?
Karya yang bermutu dan prestasi hanya bisa diraih dengan adanya kemauan dan kebiasaan siswa untuk terus belajar, lewat membaca di perpustakaan sekolah. Kegemaran membaca yang sudah terbudaya di kalangan siswa, harus diimbangi perpustakaan sekolah dengan menyediakan koleksi yang bermutu dan bervariasi. Bukankah untuk menyediakan koleksi tersebut dibutuhkan anggaran dari pihak sekolah yang tidak sedikit? Bukankah idealnya 5 % anggaran sekolah diserahkan untuk pengembangan perpustakaan?
Setiap mata pelajaran yang diajarkan di sekolah/digariskan dalam kurikulum harus di backupdengan baik oleh perpustakaan. Siswa yang menerima pelajaran di kelas, harus terus dimotivasi untuk terus belajar mengembangkan ilmunya melalui proses membaca di perpustakaan. Misalnya dengan memberi tugas membaca di perpustakaan, menceritakan kembali serta membuat laporan. Dengan menyediakan fasilitas belajar yang menyenangkan, dan kedekatan pustakawan dengan siswa akan membantu proses kenyamanan belajar di perpustakaan. Hasilnya siswa diharapkan bisa menguasai sekaligus mengembangkan mata pelajaran yang diterimanya di kelas. Pihak manajemen sekolah perlu mendukung kebijakan untuk cinta kepada perpustakaan sekolah. Misalnya saja memberi hadiah kepada siswa yang sering membaca di perpustakaan, serta menghimbau kepada guru untuk memotivasi siswa dalam melengkapi informasi dan pengetahuannya demi menunjang proses pendidikan serta daya serap terhadap mata pelajaran. Siswa yang sudah mempunyai motivasi tinggi untuk belajar, tinggal menunggu waktu saja agar dapat berkarya dan berprestasi.
Untuk mencapai tujuannya, perpustakaan sekolah perlu dikelola oleh pustakawan dengan tanggungjawab dan dedikasi yang tinggi terhadap layanan. Pustakawan sekolah harus mempunyai jiwa sabar, serta dituntut untuk memahami apa arti pendidikan sesungguhnya.
Perilaku pustakawan sekolah yang bengis, kurang ramah, serta sifat-sifat negative lain perlu dikikis habis. Sehingga siswa dapat lebih dekat dengan pustakawannya, yang merupakan penasihat siswa dalam belajar, serta mencari informasi dan ilmu pengetahuan.
Pustakawan sekolah juga harus bersifat proaktif dan suka menolong. Siswa yang kurang paham bagaimana cara mengakses sebuah koleksi, misalnya saja cara menelusur buku matematika tulisan Djoko Moesono. Pustakawan sekolah harus telaten dalam mengajarkan penelusurannya. Jika siswa mengetahui lewat judulnya, bisa langsung mengetik/mencari lewat judulnya. Atau kalau siswa lebih tahu siapa pengarang buku matematika tersebut, maka bisa dengan mengetik/mencari djoko moesono. Sehingga siswa lebih suka dan terbiasa dengan belajar, karena literatur yang mereka butuhkan untuk menunjang pelajaran, relatif mudah untuk diketemukan.
Pustakawan sekolah harus mahir dalam mengolah dan menata koleksi perpustakaan dengan baik. Sehingga saat koleksi dibutuhkan pengguna, sudah siap tersaji di rak sesuai kode buku/call number. Karena sebagian besar koleksi perpustakaan sekolah berupa buku penunjang kurikulum, maka mutu dari buku-buku itu harus diperhatikan. Karena buku merupakan jendela ilmu pengetahuan yang bisa membuka cakrawala, mampu mengembangkan daya kreatifitas dan imajinasi karena membuat otak lebih aktif mengasosiasikan simbol dengan makna.
Dengan terbiasa membaca buku, siswa akan terasah otak dan pola fikirnya. Membaca harus dijadikan aktifitas siswa sehari-hari. Buku harus dicintai dan bila perlu dijadikan sebagai kebutuhan pokok siswa dalam membantu tercapainya tujuan pendidikan di sekolah. Jika ada kelebihan uang saku, daripada membeli mainan atau jajanan di sekolah, lebih baik membeli buku. Contoh lain dengan membentuk suatu kelompok baca, membeli secara patungan. Buku tersebut bisa dimanfaatkan secara bersama, atau pun bisa didokumentasikan ke perpustakaan sekolah.
Idealnya, setiap perpustakaan sekolah mampu menyediakan minimal 2.500 judul buku. Judul sebesar itu tidak termasuk koleksi lama yang telah dipunyai, akan tetapi koleksi uptodateyang sangat dibutuhkan masyarakat sekolah. Memang terasa cukup berat. Dengan anggaran yang terbatas, perpustakaan sekolah harus menyediakan koleksi uptodate yang sedemikian besar jumlahnya.
Kita juga dapat menggunakan pedoman yang dibuat oleh IFLA/UNESCO dalam menyediakan koleksi yang bermutu dan variatif, yaitu rumusan yang menyatakan bahwa setiap siswa mendapatkan jatah 10 judul buku. Angka ini lebih kecil dibandingkan dengan kondisi perpustakaan sekolah yang ada di negara maju seperti Amerika. Di sana, untuk setiap siswa, perpustakaan sekolah mampu menyediakan 40 judul buku.
Untuk menambah koleksi yang bermutu dan variatif, perpustakaan sekolah juga bisa menempuh langkah sebagai berikut. Setiap siswa yang lulus sekolah, diwajibkan untuk menyumbangkan 1 buku untuk dijadikan koleksi perpustakaan. Akan tetapi langkah ini perlu disosialisasikan kepada seluruh siswa, guru, manajemen sekolah, bahkan wali siswa, agar tidak terjadi salah pengertian di kemudian hari. Dengan koleksi yang bermutu dan variatif, diharapkan akan menumbuhkan kegemaran membaca serta dapat meningkatkan kemampuan berbahasa siswa.
Koleksi yang memadai merupakan jaminan tercapainya tujuan pendidikan, khususnya di sekolah. Karena siswa juga membutuhkan bacaan sebagai hiburan/refreshing seusai mereka berkutat dengan pelajaran di kelas.demikian, sangat tidak baik juga apabila koleksi perpustakaan diisi dengan banyak buku-buku fiksi. Bukankah perpustakaan tidak sama dengan persewaan komik di pinggir-pinggir jalan?? Yang bisa melalaikan siswa dari tujuan utamanya untuk belajar di sekolah ??
Selain buku, minat membaca siswa perlu difasilitasi misalnya dengan membuat majalah dinding untuk science, atau pun karya sastra yang lainnya. Siswa bisa menggunting informasi yang bermanfaat dari koran/majalah di rumah, untuk dibawa ke perpustakaan sekolah. Kemudian untuk setiap hasil guntingan tersebut dikelompokkan menurut topiknya, untuk kemudian ditempel dan dipajang sebagai hasil karya dari siswa. Dalam kurun waktu tertentu, majalah dinding di perpustakaan sekolah ini harus terus di-update. Hal ini akan memotivasi siswa, selain untuk gemar membaca, juga gemar berkarya. Lewat karya di dinding ini pula, akan terjadi penyebaran informasi yang bermnfaat bagi siswa-siswa lain yang membaca. Sehingga makin banyak siswa yang pandai, cerdas dan semakin mudah pula mereka untuk berprestasi.
Perpustakaan sekolah merupakan pusat masyarakat sekolah dalam mencari sumber informasi dan ilmu pengetahuan. Selain kinerja pustakawan sekolah serta koleksi yang baik, aktifitas layanan perlu diberdayakan guna mendukung peran perpustakaan sekolah. Aktifitas layanan perpustakaan sekolah akan banyak dipengaruhi oleh aktifitas siswa dalam memanfaatkannya. Sebagai mitra siswa dalam belajar, perpustakaan sekolah dapat merencanakan user education agar siswa memahami maksud dan tujuan layanan yang diberikan.
Pustakawan sekolah harus kreatif dalam mengemas layanan panduan siswa ini. Jadual untukuser education ini perlu disusun sedemikian rupa agar berjalan secara efektif. Di sini siswa perlu dikenalkan bagian-bagian yang ada di perpustakaan sekolah. Seperti bagian peminjaman, penjajaran di rak koleksi, dsb. Di samping itu, perlu juga diajarkan fungsi dari masing-masing koleksi yang ada di perpustakaan. Dengan memahami maksud beberapa informasi yang ada di perpustakaan, siswa tidak akan salah jalan ketika akan mencari informasi dan ilmu pengetahuan sebagai pelengkap/tambahan dari mata pelajaran yang diterima di kelas.
Di kelas, pelajaran yang mereka terima tentu dapat dikembangkan dengan menggunakan acuan/sumber informasi di perpustakaan. Siswa bisa memperdalam ilmunya secara lebih detail. Proses penyerapan dan penalaran pelajaran merupakan awal dari proses yang harus dilalui siswa untuk menghasilkan karya yang bermutu. Siswa yang sering memanfaatkan perpustakaan sekolah, akan terbiasa dengan koleksi yang ada. Karena kelengkapan sumber informasi sangat menentukan dalam membuat karya yang bermutu, maka semakin banyak sumber informasi yang dipakai, makin baik pula suatu karya dapat dihasilkan.
Dengan rasio jumlah pustakawan sekolah dan siswa yang jauh dari ideal, maka seyogyanya sejak dini perpustakaan telah mengenalkan bagaimana caramemanfaatkan layanan dan koleksi yang ada untuk membantu mencapai tujuan pendidikan siswa. Misalnya untuk sekolah dasar kelas 4 dan 5, sedangkan sekolah untuk sekolah menengah kelas 2. Selain mereka diberikan bimbingan cara memanfaatkan perpustakaan dengan benar, mereka juga dibebani kewajiban untuk mensosialisasikan kepada adik-adik kelasnya. Dengan pendidikan yang berantai, seluruh siswa akan mempunyai ilmu tentang bagaimana memanfaatkan perpustakaan sekolah dengan baik sehingga akan lebih termotivasi untuk belajar. Belajar akan menjadi aktifitas sehari-hari siswa. Siswa yang terbiasa dengan belajar, akan lebih mudah pula dalam berprestasi.
Siswa juga harus terus untuk dilatih berdiskusi. Misalnya saja berdiskusi tentang suatu cerpen atau mendiskusikan tentang terjadinya gelombang pasang air laut yang disebabkan oleh gerhana bulan. Bertempat di ruang diskusi perpustakaan sekolah, dipandu oleh guru dan pustakawan sekolah, siswa dilatih untuk mengungkapkan ide-ide ilmiahnya, mempertahankan pendapatnya, serta mencari solusi/kesimpulan dari suatu permasalahan yang terjadi. Untuk bisa mendapatkan ide ilmiah, siswa terlebih dahulu harus terbiasa dengan membaca maupun browsing di internet, sehingga wawasan keilmuan siswa akan lebih luas dan terfokus. Siswa yang kaya akan berbagai ide ilmiah, tidak akan kesulitan dalam berkarya dan berprestasi.
Selain memberikan layanan terfokus pada siswa, perpustakaan sekolah dapat mengembangkan dan meningkatkan layanannya, bekerjasama dengan pihak-pihak terkait, antara lain orang tua siswa, sekolah sejenis yang lebih baik, serta dengan perpustakaan umum/daerah.
Orang tua siswa merupakan mitra belajar siswa di rumah. Dalam program membaca sebagai aktifitas siswa di rumah, perpustakaan sekolah dapat memotivasi orang tua agar menjadi teladan bagi putra-putrinya. Saat menunggu anaknya pulang sekolah, orang tua bisa meluangkan waktu untuk membaca di perpustakaan sekolah. Selain itu, peran oarang tua juga bisa menjadi penyedia anggaran untuk pembelian buku, memberi hadiah ulang tahun dengan buku ceritaterbitan terbaru, membudayakan membaca surat kabar/majalah di rumah, serta mengajak anak-anak ke perpustakaan umum/daerah saat setiap libur akhir pekan. Budaya membaca dan belajar yang dikembangkan orang tua akan mendarah daging pada anak, sehingga secara otomatis, otak mereka selalu terasah dengan ilmu dan pengetahuan. Siswa tidak akan mengalami kesulitan lagi dalam penyerapan dan penalaran pelajaran jika otak mereka selalu terasah dan terbiasa dengan ilmu pengetahuan. Bukankah siswa berprestasi akan selalu mengasah pola fikirnya dengan ilmu pengetahuan ??
Untuk menjadi lebih baik, perpustakaan sekolah harus terus berbenah. Studi banding dengan sekolah yang sejenis, tetapi sudah terlebih dulu memiliki prestasi; harus terus dilakukan. Mereka bisa berbagi tentang cara belajar, cara menambah ilmu pengetahuan di luar kelas, cara memanfaatkan perpustakaan beserta koleksinya, dsb. Tujuannya agar rahasia sekolah unggulan dapat diterapkan, dan siswa yang belum berprestasi dapat berbagi pengalaman dengan siswa sekolah ungulan yang telah berprestasi.
Pernah kehilangan buku karena terselip di suatu tempat atau dipinjam teman tapi tidak dikembalikan? Jika itu yang sering kamu alami cobalah untuk membuat perpustakaan pribadi. Selain mudah untuk mengakses buku-buku yang akan kita baca, umur buku pun jadi lebih awet. Membaca buku pun akan jadi lebih menyenangkan. Mau tau cara membuat perpustakaan pribadi? Mudah kok.
1.Memiliki material pengisi perpustakaan
Dalam teori perpustakaan, isi perut perpustakaan tak hanya buku, singkatnya sering disebut koleksi atau material. Secara umum koleksi perpustakaan dibagi dua yaitu:
a.Printed collection
Printed collection adalah koleksi yang tercetak seperti buku, majalah, makalah, hasil penelitian, brosur, peta, poster, dll.
b.Unprinted collection
Unprinted collection adalah koleksi yang dalam proses produksinya tidak melakukan kegiatan percetakan, misalnya: CD-ROM, CD, Kaset, foto, microfilm, dll.
Jadi berhentilah berfikir bahwa koleksi perpustakaan hanya buku saja.
2.Ruangan perpustakaan dan rak perpustakaan
Persiapan ruangan khusus untuk buku. Atau kalau tidak punya ruangan khusus, dompleng ruang tamu atau kamar ruangan keluarga juga bisa. Intinya ruangan yang mudah diakses oleh orang lain. Perlu diperhatikan juga aspek pencahayaan dan kebisingan, karena dua hal tersebut sangat berpengaruh pada kenikmatan membaca.
3.Mengumpulkan dan mendata buku
Setelah mengumpulkan buku, kita harus mendata buku tersebut dengan memasukkan ke sebuah buku induk. Buku ini mencatat nomor induk buku, judul, pengarang, penerbit, tahun terbit, edisi, tanggal beli dan seterusnya. Syukur-syukur kita memiliki computer. Dengan program Excel kita dapat mendatanya secara detail. Kalau tidak punya, kita dapat membuat di sebuah buku tebal tapi kuat. Dalam proses pendataan harus memuat nomor induk buku. Baik di buku induknya maupun buku sedang kita data dengan memakai pensil. Sehingga setiap buku memiliki nomor induk sendiri.
4.Mengklarifikasikan buku
Cerita tentang klasifikasi memang lumayan rumit, tetapi kita tetap harus memegang prinsip, bahwa pokoknya mudah. Begini, ratusan tahun lalu banyak para ahli yang membagi ilmu perpustakaan, dalam istilah perpustakaan disebut subyek. Subyek tersebut dibagi sesuai dengan tingkatan pengetahuan dan kondisi masyarakat saat itu. Ada colon classification, DDC, UDC dan lain-lain. Saat ini klasifikasi yang terkenal dan digunakan hamper seluruh dunia adalah system DDC singkatan dari Dewey Decimal Classification. DDC ini dibuat oleh John Melvil Dewey tahun 1800-an. Subyek dalam DDC dibagi sepuluh kategori. Dimulai ndari angka 000 sampai 900.
Berikut ini pembagian umum dari DDC:
vAngka 000 untuk General Science (Ilmu Umum), 100 Pscyology (Psikologi), 200 Religion (Agama), 300 Social Science (Ilmu Sosial), 400 Language (Bahasa), 500 Pure Science (Ilmu Murni), 600 Applied Science (Ilmu-Ilmu Terapan), 700 Art (Seni), 800 Literature (Sastra), 900 History and Geography (Sejarah dan Geografi)
vSetiap kategori pembagian masih dibagi lagi dalam sub-sub tertentu. Misalnya, kita ambil kelas 500. Kita sudah tahu, bahwa angka 500 itu adalah Pure Science atau ilmu murni. Ilmu murni itu terdiri dari apa saja?
Nah Melvil Dewey membaginya lagi menjadi sepuluh kategori. Yaitu 500 Pure Science secara umum, 510 untuk matematika, 520 untuk astronomi, 530 untuk fisika, 540 untuk kimia, 550 untuk geologi, 560 untuk paleontology, 570 untuk biologi, 580 untuk botani, 790 untuk zoology.
Dari pembagian ini masih terus dibagi menjadi persepuluhan lagi setiap kategorinya. Nah, sekarang tergantung kita, apakah mau memasukkan ke dalam klasifikasi yang detail mungkin atau sederhana saja. Jadi pembagian yang dilakukan DDC itu sangat fleksibel. Kalau kamu repot dengan aturan-aturan tersebut, membuat aturan penomoran sendiri juga bisa. Tidak ada yang melarang kok!
5.Komputerisasi
Setelah semua buku terdata dan tertandai secara manual ada baiknya data tersebut dimasukkan dalam computer. Selain mempermudah pencarian juga untuk mengamankan data perpustakaanmu. Kalau belum punya program perpustkaan secara khusus, program excel gawan Microsoft bisa dipakai. Termasuk juga siapa yang meminjam buku tersebut.
6.Blanko Peminjaman
vNah yang terakhir adalah membuat blanko peminjaman. Sebab tak jarang ada teman yang pinjam tapi lupa mengembalikan. Dan kayaknya kasus seperti ini sering terjadi.
vTerakhir jangan lupa sertakan alamat, nomor telepon atau HP kamu dalam buku tersebut. Sehingga sewaktu buku kamu hilang, maka si penemu bisa mengembalikan. Mudahkan? J
Sumber : Majalah Arafah Februari 2008 edisi 21 volume 3
Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang memiliki penduduk dengan jumlah besar. Berdasarkan data tersebut, seharusnya Indonesia dapat memiliki sumber daya manusia yang potensial
dalam membangun dan memajukan negaranya. Hal itu dikarenakan masih banyaknya penduduk yang belum mendapatkan pendidikan yang cukup. Itu dapat terlihat dari tingginya tingkat buta huruf yang diderita oleh penduduk Indonesia, terlebih penduduk yang tinggal di pelosok-pelosok daerah. Dalam mengatasi permasalahan ini, Pemerintah Indonesia berinisiatif untuk menggalakkan program Wajib Belajar Sembilan Tahun yang diberikan secara cuma-cuma di sekolah-sekolah
milik pemerintah. Program wajib belajar tersebut dapat membawa ‘angin segar’ bagi penduduk Indonesia yang tidak memiliki cukup dana untuk membiayai pendidikan anak-anak mereka.
Faktor yang belum digarap maksimal namun sangat dibutuhkan bagi keberhasilan program Wajib Belajar Sembilan Tahun yang dicanangkan oleh Pemerintah Indonesia adalah belum adanya fasilitas pemberian buku sebagai sarana penunjang kegiatan belajar dan mengajar secara cuma-cuma. Padahal, pada kenyataannya peranan buku sangatlah penting dalam mensukseskan keberhasilan program Wajib Belajar Sembilan Tahun. Buku merupakan panduan bagi para guru maupun para murid agar proses kegiatan belajar dan mengajar dapat berlangsung secara optimal. Buku merupakan jembatan penghubung yang dapat membuka ‘jendela dunia’ dimana semua pengetahuan yang melintasi dunia maupun jaman terjabar di dalamnya. Keberadaan buku tidak dapat dipandang hanya sebelah mata saja karena buku merupakan ‘nyawa’ bagi pendidikan penduduk Indonesia.
Namun, Pemerintah Indonesia memiliki kendala dalam fasilitas pemberian buku secara cuma-cuma karena setiap tahun Pemerintah Indonesia harus mengalokasikan sejumlah dana yang cukup besar untuk membiayai pendidikan penduduk Indonesia melalui program Wajib Belajar Sembilan Tahun. Pemerintah Indonesia tidak harus memberikan buku secara cuma-cuma untuk menunjang keberhasilan program Wajib Belajar Sembilan Tahun. Namun, Pemerintah Indonesia dapat meminjamkan buku secara cuma-cuma kepada penduduk Indonesia melalui program perpustakaankeliling. Dengan adanya program perpustakaan kelilingtersebut, banyak manfaat yang didapatkan oleh Pemerintah Indonesia. Selain pendanaan yang lebih efisien, Pemerintah Indonesia dapat menjangkau penduduk yang berada di pelosok-pelosok daerah.
Perpustakaan keliling dapat dikatakan sebagai salah satu solusi permasalahan yang efektif dan efisien untuk Pemerintah Indonesia apabila perpustakaan tersebut berwujud kendaraan beroda empat, baik berupa mobil kecil ataupun bus kecil yang disulap menjadi perpustakaan berjalan. Pada kenyataannya, semakin besar mobil yang disulap menjadi perpustakaan keliling tersebut maka akan semakin baik karena kapasitas buku yang ditampungnya pun akan semakin besar. Oleh karena itu, alangkah lebih baik apabila pemilihan mobil perpustakaan keliling juga melihat dari struktur jalan yang akan dilewati. Untuk menangani permasalahan kapasitas jumlah buku yang dibawa, pemerintah dapat memecahkan persoalan tersebut dengan memodifikasi mobil perpustakaan keliling sedemikian rupa sehingga dapat membawa buku dengan kapasitas maksimal.
Untuk prosedur pengoperasian perpustakaan keliling, Pemerintah Indonesia dapat menerapkan sistem pinjam seperti yang diberlakukan pada perpustakaan permanen. Selain itu, pemerintah juga dapat menerapkan sistem denda apabila mayarakat meminjam lebih dari waktu yang disepakati. Hal itu dapat mengajarkan nilai kedisiplinan dan tanggungjawab terhadap masyarakat Indonesia sehingga tingkat kedisiplinan dan tanggungjawab masyarakat Indonesia semakin meningkat. Sistem pesan buku dapat juga dijalankan oleh perpustakaan keliling untuk mengatasi permasalahan mengenai keterbatasan buku yang dibawa oleh perpustakaan keliling. Masyarakat dapat memesan buku dengan memberikan judul buku dan nama pengarang dengan lengkap sehingga petugas perpustakaan keliling dapat membawakan buku yang dimaksud dengan tepat dan sesuai dengan keinginan pemesan sehingga petugas perpustakaan keliling tersebut dapat membawa buku yang dipesan sesuai dengan jadwal kedatangan mereka di lokasi masyarakat yang memesan buku tersebut.
Untuk dapat membuka wawasan dan pengetahuan masyarakat Indonesia, Pemerintah Indonesia dapat menyediakan aneka macam buku pengetahuan, baik buku pelajaran sekolah maupun buku-buku pengetahuan lainnya yang tidak berhubungan dengan sekolah namun dapat menambah pengetahuan masyarakat Indonesia sehingga masyarakat Indonesia dapat menjadi masyarakat yang semakin berkembang dari waktu ke waktu dan memiliki pola pemikiran yang luas. Masyarakat Indonesia dapat menambah pengetahuan yang berhubungan dengan pekerjaan mereka sehingga mereka dapat melakukan pekerjaan mereka lebih optimal lagi dan memiliki motivasi yang lebih untuk maju serta tidak tertinggal dari kemajuan bangsa lain. Pemerintah juga dapat menyediakan buku-buku seputar hobi dimana buku-buku tersebut dapat mengarahkan masyarakat agar masyarakat dapat mengembangkan hobi mereka dan pada akhirnya hobi mereka tersebut dapat menjadi sumber penghasilan mereka serta membawa mereka ke kehidupan yang lebih baik dan layak.
Pada akhirnya, perpustakaan keliling merupakan solusi tepat, ampuh, dan pasti dalam membuka wawasan masyarakat Indonesia dan membawa masyarakat Indonesia serta Negara Indonesia tercinta ini ke kehidupan yang lebih baik lagi.
Apakah search engine dapat menggeser peran pustakawan?
Menurut saya ya, karena sekarang ini adalah jamannya teknologi yang canggih. Munculnya teknologi baru memberikan manfaat yang besar bagi kehidupan. Terutama untuk sebuah perpustakaan. Dengan search engine ini para pengguna perpustakaan dapat mencari sebuah informasi yang di butuhkan di perpustakaan tanpa bantuan para pustakawan. Selain itu juga dapat menghemat waktu dan tenaga pengguna tanpa mengunjungi perpustakaan. Semua informasi dapat di dapatkan lewat search engine. Proses pencarian juga lebih cepat daripada pustakawan. Search engine hanya menentukan kata kunci akan langsung muncul informasi-informasi yang akan di butuhkan. Sedangkan peran pustakawan lebih lambat, karena mereka akan menunjukkan informasi secara satu persatu dan tujuan ke tujuan agar dapat menemukan informasi. Belum lagi sikap para pustakawan yang tidaka ramah, yang membuat para pengguna enggan untuk memerlukan jasa mereka. Selain itu sebagai jasa layanan yang di perpustakaan harus bisa memenuhi kebutuhan pengguna. Yang jasanya di harapkan bisa membantu menemukan informasi sesuai search engine. Juga Search engine mudah digunakan oleh siapa saja. Serta informasi-informasinya semakin terus berkembang sesuai teknologi yang berkembang. Tapi para pustakawan bisa jadi search engine. Karena di jaman serba canggih ini para pustakawan di tuntut untuk bisa menguasai tekonologi yang ada. Para pustakawan saat ini harus berfikir krearif, cerdas, dan cepat. Kemungkinan alat-alat yang ada di perpustakaan adalah ciptaan para pustakawan. Semua ini adalah sebuah bukti bahwa seorang pustakawan juga tidak kalah hebatnya dengan orang-orang berkecimpung di dunia teknologi.