Banner 468 X 60

Diberdayakan oleh Blogger.

Minggu, 20 Mei 2012

Membaca Adalah Suatu Pilihan


Membaca Adalah Suatu Pilihan

Tentang manfaat membaca bagi setiap orang, tentu tidak perlu lagi diperdebatkan lagi. Selain informasi dan pengetahuan, membaca adalah kegiatan positif yang bisa mempengaruhi hati dan jiwa, memberi hiburan, bahkan mendatangkan kebahagiaan. Membac adalah aktifitas yang sudah diakui manfaatnya. Ia bukanlah sebuah aktifitas yang baru muncul di tahun-tahun terakhir ini. Hanya saja, banjir informasi yang berjalan dengan cepat dan melimpah saat ini, menuntut kita mengimbangi dan mengambil secara cerdas. Banyak yang menganggap bahwa membaca adalah kegiatan yang hanya pantas dilakukan oleh mereka yang masih sekolah/kuliah dan pintar. Ia ibarat kegiatan yang merusak mata dan menambah ketebalan kacamata periodic. Istilah kutu buku yang terkenal itu, sering diidentikkan dengan sosok berkaca mata tebal seperti pantat botol, culun dan sangat tidak menarik.
Bukan hanya pelajar
Sesunguhnya tidak ada korelasi antara latar belakang pendidikan dengan kemampuan menbaca. Maka siapapun kita bahkan mesti hanya lulusan sekolah dasar punya peluang yang sama dalam menjadikannya sebagai kebiasaan kita. Yang ada adalah hubungan antara kecerdasan dan potensi membaca. Karena ia adalah aktifitas kompleks yang mengerahkan sejumlah besar tindakan yang terpisah-pisah, khayalan, pengertian, pengamatan dan ingatan.  Dan kecerdasan tidak sama dengan tingkat pendidikan. Meski bukan hanya milik para pelajar, menjadikan membaca sebagai sebuah kebiasaan bukanlah hal yang mudah. Bahwa sebuah kebiasaan terdiri dari tiga unsur yang saling berkaitan erat. Pun demikian halnya dengan membaca. Apabila salah satunya tidak ada, maka ia tidak bisa disebut sebagai kebiasaan.
Bukan Kebetulan
Siapapun kita, bisa saja menjadikan membaca sebagai sebuah kebiasaan asal tahu caranya, Yaitu mencoba merealisasikan gabunagn dari tiga unsure kebiasaan ; Pengetahuan, Keinginan dan Keterampilan.
  Yang pertama, kita harus memiliki cukup pengetahuan tentang pentingnya membaca, jenis bacaan, klasifikasinya berdasar kepentingan, serta peringkat prioritasnya. Hal ini perlu agar kita terhindar dari kesalahan memilih bahan bacaan, baik karena isinya yang ternyata merusaj atau berkualitas rendah, juga tidak termasuk yang paling mendesak untuk dibaca.
Yang kedua adalah factor keinginan. Ia berupa motivasi yag kuat untuk membaca, sebab kebiasaan membaca bukanlah sebuah kebetulan, namun memang harus diupayakan. Motivasi ini dapat kita peroleh dari pengetahuan akan besarnya manfaat yang akan kita dapatkan dari kebiasaan ini, sekaligus kerugian kita yang akan kita alami jika kita tidak terbiasa membaca. Bisa juga dengan mengamati orang-orang yang sukses karena menjadikan diri mereka sebagai pembelajar, yang senantiasa membaca dan terus membaca untuk memperbaiki kualitas diri. Secab sesungguhnya, bangku sekolah sja tidak akan cukup membekali kita dengan ilmu dan ketrampilan yang memadai sebagai bekal hidup.
Yang ketiga adalah factor keterampilan. Ia meliputi sejumlah kemampuan teknis yang dibutuhkan untuk melakukan suatu kebiasaan. Dalam hubungannya dengan membaca, ada sebuah keterampilan yang harus kita miliki untuk melakukannya dengan baik dan menyenangkan. Tanpa keterampilan yang memadai, seringkali kita mudah lelah, lamban, mudah bosan, dan tidak bergairah. Kita bahkan tidak tahan membaca satu bab buku sekali duduk, apalagi menyelesaikannya sampai akhir, meski buku itu tipis.

Singkirkan Penghalang
Ada sejumlah kebiasaan buruk dalam membaca yang mnyebabkan menjadi berat, lamban dan melelahkan. Diantarnya adalah membaca dengan suara atau vokalisasi. Mirip orang yang berbicara sendiri. Mengucapkan kata demi kata dengan lengkap tentu sangat memperlambat membaca. Bahkan sekedar menggumamkan kata dengan mulut terkatub dan tanpa suara sedikitpun termasuk kategori ini. Selain itu, menggerakkan bibir atau komat kamit juga termasuk di dalamnya. Seringkali kita harus kembali ke belakang dalam membaca sebab gerakan bibir tidak bisa mengimbangi kecepatam mata. Menggerakkan kepala dari kiri ke kanan mengikuti baris demi baris demi baris bacaan, termasuk menghambat membaca. Kebiasaan sejak kecil ini terjadi karena penglihatan kanak-kanak kita masih sulit menguasai seluruh penampang bacaan. Jika bertahan hingga dewasa, tentulah akan menghambat kecepatan membaca, sebab menggerakkan mata saja tentu lebih cepat dan lebih mudah disbanding harus menggerakkan kepala. Ada lagi kebiasaan tidak baik dalam membaca yang masih banyak terjadi, yaitu, menunjuk dengan jari saat membaca. Kebiasaan ini muncul karena saat baru belajar membaca, kita mengucapkan kata demi kata apa yang kit abaca. Kekhawatiran adanya kata yang terlewati menyebabkan kita meminta bantuan jari, pensil, dll sebagai penunjuk. Hal ini akan sangat menghambat kecepatan baca sebab gerakan mata tentu lebih cepat disbanding kecepatan alat penunjuk. Seringkali, mata kita bergerak kembali ke belakang 9regresi) untuk membaca ulang satu atau beberapa kata sebelumnya. Kebiasaan yang sangat menghambat ini terjadi karena kita kurang atau tidak konsentrasi ketika membaca. Kita melamun, sehingga merasa ada kata yang etrlewati. Padahal memahamisebuah bacaan seringkalidengan memahami konteks bacaab, bukan menghafal kata demi kata.
Mata dan Otak
Membaca adalah aktifitas mata dan otak. Mata ibarat kamera yang memotret bahan bacaan, sedang otak adalah prosessor untuk memahaminya. Daei sini, otak adlah unsure utama membaca., karena mata hanya menginformasikan ke otak., apa yang ia lihat , sedang eksekusinya ada di otak. Itulah kenapa orang yang rusak otaknya tidak bisa membaca eski matanya sehat. Sedang orang buta mampu buta mampu membaca huruf-huruf Braille, meski mata mereka bermaslah. Karena kemampuan interpretasi sebuah bacaan tidak tergantung kepada ketajaman mata, namun lebih kepada kejernihan otak, serta kekayaan wawasan dan pengertiannya. Maka yang harus dialkukan sekarang adalah memilih dan memilah bahan bacaan, sebab ada bacaan yang bergizi dan ada pula bacaan yang berupa sampah. Menetapkan prioritas dan target bacaan yang realistis. Kemudian mencoba untuk menikmatinya. Bukankah aktifitas ini bisa dilakukan dalam pilihan waktu dan tempat yang fleksibel?. Semua akan mudah jika kita memang disiplin mengerjakannya. Jadi,  karena membaca adalah  sebuah pilihan, sebagaimana kita juga bisa memilih untuk tidak membaca, pertimbangkan baik-baik untung rugi diantara dua pilihan itu. Sudahlah kita memilih untuk menjadikan membaca sebagai bagian dari kebiasaan kita?...




Sumber : Majalah Inside 8 Januari 2007 :25

0 komentar:

Posting Komentar